Posts Tagged ‘Komunitas’

Semarangonfire on kaskus…

Posted on 19 Jul 2010 at 1:29am

yeah..walaupun semarangonfire.net rada2 vakum ne gan..webnya…karena kami kekurangan kontributor dan saya pribadi juga kerepotan untuk mengurus web ini karena pekerjaan real life saya yang lumayan banyak….tapi bukan berarti kami mati untuk slamanya…hanya mati suri..hehe..kami mengusahakan agar web ini hidup kembali memberikan kontribusi sedikit untuk perkembangan musik di semarang ataupun di indonesia….dengan ini kami melihat komunitas di web comunity kaskus.us sangat besar membuat kami ingin membuka official tread disana…agar dapat labih dekat dengan komunitas yang ada disemarang dan sebagai wadah promo band2 yang ada maupun band2 baru yang ada di semarang so cikidot gan….

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4720861

Jurnal Efek Rumah Kaca Road Tour Malaysia dan Singapura

Jurnal Efek Rumah Kaca Road Tour Malaysia dan Singapura

Posted on 08 Apr 2010 at 3:08pm

Kutipan Jurnal perjalanan Road Tour ERK di malaysia dan di singapura yang kurang lebih dilakukan selama 2 minggu yang di ambil dari rollingstone.co.id.

Tanggal 25 Februari 2010 rombongan Efek Rumah Kaca bertolak dari Soekarno-Hatta, dan kami salah masuk terminal pemberangkatan! Maka, rombongan yang terdiri dari tujuh orang itu bersusah payah mengangkat semua bagasi (jumlah beban kurang lebih 160 kg) ke terminal pemberangkatan yang seharusnya.

Menjejakkan kaki di Kuala Lumpur, cuaca sangat terik. Burung gagak berkoar-koar. Zulhabri dari frijan- sebuah komunitas musik, seni rupa, dan sastra yang menjadi promotor rangkaian konser Efek Rumah Kaca (ERK) di Malaysia- menjemput rombongan di bandara. Rombongan ERK terdiri dari Adrian (bas, vokal latar), Akbar (drum, vokal latar), Cholil (vokal, gitar), Yuri (road manager), Arif (sound engineer), Tim, dan Acho (technicians).

Sesampainya di rumah frinjan (demikian “basecamp” frijan dinamakan), Efek Rumah Kaca langsung melakukan press conference- membahas pertunjukkan-pertunjukkan ERK di Malaysia. Pertunjukkan pertama adalah “diskustik”, sebuah acara diskusi tentang berbagai isu dengan tambahan penampilan akustik. Acara ini juga mengundang band power pop lokal, Couple. Sedangkan pertunjukkan kedua adalah sebuah konser dengan setlist (relatif) panjang.

Keesokan harinya. rombongan ERK berangkat ke Annexe Gallery. Diskusi yang ditargetkan hanya untuk 50 orang, membengkak menjadi sekitar 200 peserta. Acara dibuka dengan penampilan masing-masing dua lagu oleh Couple dan ERK. Dilanjutkan dengan sesi diskusi dimana para peserta terlihat sangat menyimak. Beberapa pertanyaan kritis dilontarkan kepada dua band tersebut, mulai dari tentang lingkungan, politik, sosial sampai budaya. Hingga akhirnya diskusi ditutup dengan penampilan tiga buah lagu dari ERK sebagai “teaser” konser esok hari..

Sabtu, 27 Februari 2010, konser ERK digelar di One Cafe Kuala Lumpur. Konser dibuka oleh band-band lokal: Sunday Carusel, Free Love, Couple, Deepset, dan Nao. ERK mengawali konser dengan “Debu-debu Berterbangan”. Sekitar 500 penonton memadati venue. Sing along langsung membahana, hingga lagu terakhir dibawakan. Sebuah prediksi yang tidak terduga mengingat dua album ERK- “Efek Rumah Kaca” dan “Kamar Gelap”- belum beredar secara resmi di Malaysia. Penonton pun me-request,   meneriakkan judul-judul lagu ERK. Setelah membawakan 16 lagu, ERK mengakhiri pertunjukkannya. Rupanya penonton masih “minta tambah”. Lagu “Hujan Jangan Marah” diputuskan menjadi encore penutup konser. Wajah-wajah penonton begitu puas. Frinjan, ERK, dan semua yang datang, sukses bersenang-senang!.

Keesokan harinya, ERK melakukan sesi interview dengan majalah musik lokal, ROTTW. Wawancara dilakukan di kediaman Abang Rom, salah seorang musisi senior Malaysia. Setelah itu, kami berangkat menuju Multimedia University Cyberjaya. Bekerjasama dengan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), kami mengadakan acara “ngobrol-ngobrol” dan bermain set akustik di sana.

Agenda berikutnya adalah melakukan wawancara untuk Radio Persatuan Pelajar Indonesia. Ini adalah radio online yang “nomaden”, bisa berpindah tempat pada setiap siarannya. Kali ini siaran diadakan di sebuah kamar apartemen.  .

Ke Singapura

Rabu pagi. Melalui jalur darat, kami menuju Singapura.

Perjalanan diperkirakan memakan waktu enam jam dari Kuala Lumpur, untuk kemudian singgah di custome imigrasi Johor Baru. Sekitar pukul lima sore kami tiba di check point woodlands. Awalnya semua berjalan lancar hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan pada equipment yang kami bawa. Gelagat timbulnya problema mulai tercium dengan diarahkannya kami ke ruangan yang sepertinya diperuntukkan khusus bagi orang-orang yang mau menyeberang namun bermasalah. Salah satu dari rombongan kami dipanggil,  dan dipertanyakanlah alasan kami ke Singapura. Sampai pada keputusan bahwa kami boleh masuk Singapura tetapi equipment harus kembali ke Malaysia. Kami tidak begitu saja menyetujui kemauan dari pihak imigrasi tersebut. Dengan dikawal polisi, equipment yang sudah naik ke lantai atas harus dibawa turun kembali untuk dimasukkan ke dalam van sewaan kami untuk bertolak kembali menuju Malaysia. Di saat bersamaan, van yang kami sewa harus segera kembali dan pergi meninggalkan kami, setelah terlebih dahulu menurunkan kami di perbatasan check point Malaysia. Beruntung salah seorang polisi diraja Malaysia mengizinkan kami menunggu surat yang dibawa mahasiswa dari Embassy Indonesia di Singapura untuk mengurus kendala yang kami hadapi. Akhirnya prosedur mengharuskan kami tetap keluar menuju Johor Baru, selanjutnya masuk lagi seperti semula menuju Singapura. Berbelit-belit.

Dengan badan dan muka letih, rombongan kami mengangkat equipment yang sangat berat, berjalan jauh menuju mobil sewaan lain yang sudah menunggu di seberang Johor Baru. Di sana telah menunggu teman-teman yang telah membawa surat dari Embassy.

Pukul 1.30 dini hari, rombongan berangkat menuju Singapura dengan dua mobil sewaan yang terisi sesak oleh orang dan barang. Masalah tidak segera berhenti, pemeriksaan terus kami jalani meskipun surat sudah di tangan. Semacam “paranoid dan trauma” masih membekas di benak karena kurang lebih delapan jam kami lontang lantung di perbatasan dengan perut kosong dan tenggorokan kering karena tidak ada makanan. Beruntung ada salah seorang pekerja yang mau membelikan kami makanan dan minuman dengan menyeberang jalan- karena dia mempunyai akses untuk itu. Pemeriksaan pun berakhir dengan mencocokkan foto kami dengan KTP, passport, pengambilan sidik jari, dan pemeriksaan bagasi.

Akhirnya sampai juga di hotel Value Baleister Road, tempat kami menginap. Perasaan lega bercampur lelah menghantar kami memasuki kamar. Kemudian, mencari makanan.

Sejak dari Jakarta, kami berencana untuk menggunakan kesempatan undangan bermain di Singapura ini untuk sekalian melakukan pemeriksaan medis dan treatment bagi mata Adrian yang pengelihatannya menurun. Kami melakukan korespondensi dengan sebuah rumah sakit di Singapura. Saat berobat di sebuah rumah sakit di Jakarta pada 2005, Adrian “divonis” Retinis Pigmentosa, sebuah penyakit penurunan pengelihatan pada mata yang akan berdampak pada kebutaan dan tidak ada obatnya.

Kamis, 4 Maret 2010, ditemani Rio (liason officer), Adrian memeriksa kondisi matanya. Penanganan dokter di rumah sakit Singapura sangat cekatan, sampai akhirnya keluar diagnosa bahwa penyakit mata Adrian adalah Inflammation atau terdapat virus/bakteri di darah sehingga tidak bekerjanya aliran darah ke mata. Yang paling menggembirakan adalah, menurut dokter, penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan beberapa treatment.

Jumat, 5 Maret 2010, ERK melakukan rehearsal bersama para pemain teater untuk pertunjukkan theater musical yang diberi tajuk “Maha Brata”. Esoknya, pertunjukkan digelar di The Republic Culture Centre. Sebuah penampilan kolaborasi yang apik melupakan segala “kekacauan perjalanan” kami di hari-hari sebelumnya.

Sekitar 800 tempat duduk terisi. Terlihat staf KBRI dan Duta Besar Indonesia untuk Singapura di atara penonton. “Lagu Kesepian” dan “Jalang” dibawakan untuk mengiringi adegan demi adegan. Setelah semua rangkaian teater usai, ERK kembali tampil live dan sekaligus menutup acara. Pertunjukkan penuh kesan!

Minggu, 7 Maret 2010, rombongan ERK pulang ke Indonesia. Kecuali Adrian yang kembali berobat ke rumah sakit, beserta saya yang menemani. Dua hari kemudian, kami pulang ke tanah air.

sumber : rollingstone.co.id

Carakafestivalkreatif

Carakafestivalkreatif

Posted on 06 May 2009 at 9:35pm

Dalam rangka soft launching event CARAKA FESTIVAL KREATIF dan membudayakan bersepeda, panitia mengadakan Semarang Fun Bike 2009 Recycle for Circle. Bersepeda pada hakikatnya merupakan sebuah aktivitas yang murah, mudah, dan menyehatkan.

Tapi sayangnya di era modern ini sepeda mulai ditinggalkan dan dialihakan ke kendaraan bermotor. Hadirnya beberapa komunitas sepeda di Semarang juga memberikan indikasi bahwa saat ini sepeda dapat dikategorikan sebagai gaya hidup maupun hobi.

Oleh karena itu marilah kita kembali bersepeda (RECYCLE) untuk (FOR) kesehatan lingkungan serta jiwaraga kita (CIRCLE). Acara ini sebagai soft launching acara CARAKA FESTIVAL KREATIF yang akan melibatkan beberapa komunitas sepeda di kota Semarang (Sepeda Onthel, BMX, LowRider, Bike To Work) dan masyarakat umum yang peduli pada kesehatan dan pelestarian lingkungan hidup melalui bersepeda.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Minggu, 3 Mei 2009.

Start dan finish di depan gerbang Universitas Diponegoro, Pleburan

Acara pendukung di Lapangan Basket FISIP Universitas Diponegoro, Pleburan

Susunan Acara

06.15 – 06.30 : Opening (Pelepasan Oleh Walikota Semarang)*
06.30 – 09.00 : Sepeda Santai
09.00 – 10.30 : Ramah Tamah

· Doorprize

· Pemilihan Kostum Terunik

10.30 – 10.45 : Closing

Kamu akan dateng apa tidak ke Carakafestivalkreatif

View Results

 Loading ...
Story Board Nurkholis Solo Exhibition

Story Board Nurkholis Solo Exhibition

Posted on 21 Apr 2009 at 6:51pm

Host:
Tujuh Bintang Art Space
Type:
Music/Arts - Exhibit
Start Time:
Saturday, April 25, 2009 at 7:30pm
End Time:
Sunday, May 10, 2009 at 12:00am
Location:
Tujuh Bintang Art Space
Street:
Jl Sukonandi 7 Jogja
Phone:
62274545577
Email:
info@tujuhbintang.com

Nurkholis (dilahirkan di Jepara, 17 Juli 1969, menyelesaikan pendidikan seni rupa di ISI Yogyakarta pada 1994, lulus dengan predikat cumlaude) adalah motor penggerak kelompok seni rupa “Seringgit”, sebuah kelompok para perupa yang cenderung membuat aktivitas ‘seni rupa pertunjukan’ atau seni rupa instalasi. Ia juga aktif di komunitas ‘moge’ (motor gedhe; motor besar atau “west motor club”) yang beberapa kali menyelenggarakan semacam festival seni yang melibatkan seni pertunjukan, fotografi, dan video.

Story board bagi Nurkholis adalah gambar yang dibebani banyak pesan, kritik, sinisme, bahkan penuh dengan gugatan. Karyanya yang bertajuk “Story Board” (terdiri beberapa karya) menunjukkan gejala atau tendensi seperti itu. Sejumlah ‘tokoh’ dihadirkan dalam kanvasnya; supermen, kadal, anjing, dan lain-lain, dengan sejumlah property seperti kuas, sebagai pendukung narasi. Karya ini tampaknya merupakan kecenderungan terbaru yang (merasa perlu) menyertakan catatan-catatan verbal (tulisan) menjadi elemen penting dalam struktur visual.

“Story Board” pada dasarnya semacam puzzle yang berisi kegelisahan dan situasi “dizzy” seorang Nurkholis. Sensasi optik pada karya-karyanya, mudah-mudahan mengundang pengalaman baru dalam “menikmati” gagasan dan bahasa visual. Selanjutnya, siapa pun dapat merangkai puzzle ini dengan cara masing-masing.

Penulis :
Suwarno Wisetrotomo

Dibuka oleh :
Drs. Djoko Dwiyanto, M. Hum
Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DIY

Live Music :
Kolaborasi The Brown Sugar & Hadi Soes Electone

More Info :
www. tujuhbintang.com

Advertisement



September 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930