Posts Tagged ‘Rollingstone’

Misfits ke jakarta??

Misfits ke jakarta??

Posted on 09 Apr 2010 at 4:26pm


Kutipan wawancara dengan Jerry Only The Misfits yang di lakukan oleh Wendi Putranto Jurnalis RollingStone Indonesia, tentang rencana kedatangan The misfits ke jakarta..

Pemain bas sekaligus vokalis band legendaris horor punk, Misfits, bicara melalui ponsel pribadinya dari New Jersey, AS, tentang Indonesia, film horor, kenangan manis bersama Glenn Danzig serta rencana konser mereka di Jakarta pada 10 April 2010 di Pantai Karnaval, Ancol, yang digelar oleh -Solucites Entertainment.

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendapat tawaran untuk tampil di Jakarta, Indonesia?
Well, sebenarnya agak ironis, kami punya teman yang memperlihatkan gambar serangga, kupu-kupu, ketika ia datang ke Indonesia. Kami sangat familier dengan Indonesia walau belum pernah datang ke sana sebelumnya. Kami sangat tertarik untuk segera datang ke sana.

Ada yang Anda tahu tentang negara ini selain serangga mungkin?
No, not really. Saya cuma familier dengan namanya tapi kurang paham soal budayanya. Saya membayangkan Indonesia adalah negara beriklim tropis, jadi saya siap untuk segala kemungkinan termasuk badai angin topan .

Anda tidak bermasalah dengan iklim tropis?
No problem at all. Terkadang jika Anda datang ke negara bersalju maka akan berhadapan dengan pesawat yang ditunda dan masalah transportasi lainnya, tapi kami bermain di segala cuaca. Kami senang saja jika harus melihat angin topan. Kalian punya angin topan di sana?

Tahukah Anda film setan kami lebih menyeramkan, tertarik menonton salah satunya?
Oh ya? Wow, saya sangat tertarik, kalau tidak salah kami akan sampai di Jakarta sehari sebelum konser jadi masih punya waktu. Jika tidak keberatan silakan datang ke hotel dan membawa filmnya. Anda bawa laptop kan? Nah, kita bisa nonton bareng film itu nanti .

Bagaimana perasaan Anda ketika tahu band seperti Metallica dan Guns N’ Roses membawakan lagu Misfits di panggung dan juga di album?
Saya senang mengetahui band-band seperti itu mau membawakan lagu-lagu kami. Tapi kami lebih memilih untuk membawakan lagu sendiri di atas panggung.

Masih banyak penggemar Glenn Danzig yang berpikir bahwa band ini bukanlah Misfits yang sebenarnya, komentar Anda?
Well, saya harus bicara jujur kepada Anda. Glenn meninggalkan Misfits pada tahun 1983 dan dia tidak mau berbicara tentang hal itu lagi, tapi anehnya dia sangat cepat kalau berurusan dengan mengambil uang dari band ini . Saya doakan semoga ia berhasil tapi saya tidak mau bekerja sama dengannya lagi. Jika Anda penggemar Danzig dan tidak suka dengan Misfits, that’s fine. Kami masih punya banyak orang, ratusan atau mungkin ribuan anak muda yang menyukai band ini dan datang ke konser kami. Saran kami bagi mereka: Pergilah nonton Danzig!

Anda sudah jutaan kali mendapat pertanyaan ini, tapi jelaskan dengan jujur, seberapa dekat penggemar Misfits menyaksikan reuni Misfits bersama Glenn Danzig?
Tidak sedekat seperti 25 tahun yang lalu ketika ia masih berada di band. Kami sangat tidak dekat sekarang ini dibanding 25 tahun yang lalu . Saya mau melakukannya asal ini bisa mengubah dunia , Anda tentu paham maksud saya. Andai Tuhan berkata, “Jika kamu tidak reuni de-ngan Glenn maka saya akan hancurkan planet ini!” . Ini bukan karena saya tidak mau, tapi menurut saya, ini adalah hal yang salah bagi band kami. Mereka tidak mengerti hal ini dan saya tidak berharap mereka mengerti juga sebenarnya.

Apakah Anda akan menjadi vokalis permanen bagi Misfits?
OK, saya sudah pernah beberapa kali mencoba vokalis baru setelah Glenn Danzig. Dan kita semua tahu Glenn adalah yang terbaik dari semuanya, tidak perlu berdebat tentang itu lagi, semua orang sudah tahu itu. Tapi sampai saya menemukan orang baru yang sangat ingin menjadi vokalis band ini yang bekerja sekeras saya juga, maka saya akan tetap menjadi vokalis band ini. Dan jika itu terjadi besok maka Misfits akan memiliki vokalis baru esok juga dan jika dalam 20 tahun ke depan kami belum menemukannya maka selama itu juga saya akan terus bernyanyi di band ini. Saya tidak peduli.

Apa yang Anda lakukan di waktu luang?
Saya tidak punya waktu luang . Tidak punya sama sekali. Kami selalu melakukan sesuatu dan kami selalu bekerja keras. Jika saya tidak berada di studio untuk menulis lagu biasanya saya berada di gym, menjaga agar band ini tetap sehat . Selalu ada sisi bisnis yang datang sehari-harinya. Band ini adalah full time job bagi saya.

Apa film horor favorit Anda sepanjang masa?
Well, saya adalah penggemar berat Boris Karloff maka saya sangat suka film Frankenstein. Saya juga suka Horror Hotel, setiap kali menontonnya masih saja menakutkan. Saya masukkan film ini ke dalam daftar Top 5 saya sepanjang masa.

Bagaimana dengan Top 5 album terbaik Anda sepanjang masa?
Ziggy Stardust (David Bowie), Piece of Mind (Iron Maiden), Static Age (Misfits), Walk Among Us(Misfits), Earth A.D. (Misfits).

Sumber : rollingstone.co.id

Jurnal Efek Rumah Kaca Road Tour Malaysia dan Singapura

Jurnal Efek Rumah Kaca Road Tour Malaysia dan Singapura

Posted on 08 Apr 2010 at 3:08pm

Kutipan Jurnal perjalanan Road Tour ERK di malaysia dan di singapura yang kurang lebih dilakukan selama 2 minggu yang di ambil dari rollingstone.co.id.

Tanggal 25 Februari 2010 rombongan Efek Rumah Kaca bertolak dari Soekarno-Hatta, dan kami salah masuk terminal pemberangkatan! Maka, rombongan yang terdiri dari tujuh orang itu bersusah payah mengangkat semua bagasi (jumlah beban kurang lebih 160 kg) ke terminal pemberangkatan yang seharusnya.

Menjejakkan kaki di Kuala Lumpur, cuaca sangat terik. Burung gagak berkoar-koar. Zulhabri dari frijan- sebuah komunitas musik, seni rupa, dan sastra yang menjadi promotor rangkaian konser Efek Rumah Kaca (ERK) di Malaysia- menjemput rombongan di bandara. Rombongan ERK terdiri dari Adrian (bas, vokal latar), Akbar (drum, vokal latar), Cholil (vokal, gitar), Yuri (road manager), Arif (sound engineer), Tim, dan Acho (technicians).

Sesampainya di rumah frinjan (demikian “basecamp” frijan dinamakan), Efek Rumah Kaca langsung melakukan press conference- membahas pertunjukkan-pertunjukkan ERK di Malaysia. Pertunjukkan pertama adalah “diskustik”, sebuah acara diskusi tentang berbagai isu dengan tambahan penampilan akustik. Acara ini juga mengundang band power pop lokal, Couple. Sedangkan pertunjukkan kedua adalah sebuah konser dengan setlist (relatif) panjang.

Keesokan harinya. rombongan ERK berangkat ke Annexe Gallery. Diskusi yang ditargetkan hanya untuk 50 orang, membengkak menjadi sekitar 200 peserta. Acara dibuka dengan penampilan masing-masing dua lagu oleh Couple dan ERK. Dilanjutkan dengan sesi diskusi dimana para peserta terlihat sangat menyimak. Beberapa pertanyaan kritis dilontarkan kepada dua band tersebut, mulai dari tentang lingkungan, politik, sosial sampai budaya. Hingga akhirnya diskusi ditutup dengan penampilan tiga buah lagu dari ERK sebagai “teaser” konser esok hari..

Sabtu, 27 Februari 2010, konser ERK digelar di One Cafe Kuala Lumpur. Konser dibuka oleh band-band lokal: Sunday Carusel, Free Love, Couple, Deepset, dan Nao. ERK mengawali konser dengan “Debu-debu Berterbangan”. Sekitar 500 penonton memadati venue. Sing along langsung membahana, hingga lagu terakhir dibawakan. Sebuah prediksi yang tidak terduga mengingat dua album ERK- “Efek Rumah Kaca” dan “Kamar Gelap”- belum beredar secara resmi di Malaysia. Penonton pun me-request,   meneriakkan judul-judul lagu ERK. Setelah membawakan 16 lagu, ERK mengakhiri pertunjukkannya. Rupanya penonton masih “minta tambah”. Lagu “Hujan Jangan Marah” diputuskan menjadi encore penutup konser. Wajah-wajah penonton begitu puas. Frinjan, ERK, dan semua yang datang, sukses bersenang-senang!.

Keesokan harinya, ERK melakukan sesi interview dengan majalah musik lokal, ROTTW. Wawancara dilakukan di kediaman Abang Rom, salah seorang musisi senior Malaysia. Setelah itu, kami berangkat menuju Multimedia University Cyberjaya. Bekerjasama dengan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), kami mengadakan acara “ngobrol-ngobrol” dan bermain set akustik di sana.

Agenda berikutnya adalah melakukan wawancara untuk Radio Persatuan Pelajar Indonesia. Ini adalah radio online yang “nomaden”, bisa berpindah tempat pada setiap siarannya. Kali ini siaran diadakan di sebuah kamar apartemen.  .

Ke Singapura

Rabu pagi. Melalui jalur darat, kami menuju Singapura.

Perjalanan diperkirakan memakan waktu enam jam dari Kuala Lumpur, untuk kemudian singgah di custome imigrasi Johor Baru. Sekitar pukul lima sore kami tiba di check point woodlands. Awalnya semua berjalan lancar hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan pada equipment yang kami bawa. Gelagat timbulnya problema mulai tercium dengan diarahkannya kami ke ruangan yang sepertinya diperuntukkan khusus bagi orang-orang yang mau menyeberang namun bermasalah. Salah satu dari rombongan kami dipanggil,  dan dipertanyakanlah alasan kami ke Singapura. Sampai pada keputusan bahwa kami boleh masuk Singapura tetapi equipment harus kembali ke Malaysia. Kami tidak begitu saja menyetujui kemauan dari pihak imigrasi tersebut. Dengan dikawal polisi, equipment yang sudah naik ke lantai atas harus dibawa turun kembali untuk dimasukkan ke dalam van sewaan kami untuk bertolak kembali menuju Malaysia. Di saat bersamaan, van yang kami sewa harus segera kembali dan pergi meninggalkan kami, setelah terlebih dahulu menurunkan kami di perbatasan check point Malaysia. Beruntung salah seorang polisi diraja Malaysia mengizinkan kami menunggu surat yang dibawa mahasiswa dari Embassy Indonesia di Singapura untuk mengurus kendala yang kami hadapi. Akhirnya prosedur mengharuskan kami tetap keluar menuju Johor Baru, selanjutnya masuk lagi seperti semula menuju Singapura. Berbelit-belit.

Dengan badan dan muka letih, rombongan kami mengangkat equipment yang sangat berat, berjalan jauh menuju mobil sewaan lain yang sudah menunggu di seberang Johor Baru. Di sana telah menunggu teman-teman yang telah membawa surat dari Embassy.

Pukul 1.30 dini hari, rombongan berangkat menuju Singapura dengan dua mobil sewaan yang terisi sesak oleh orang dan barang. Masalah tidak segera berhenti, pemeriksaan terus kami jalani meskipun surat sudah di tangan. Semacam “paranoid dan trauma” masih membekas di benak karena kurang lebih delapan jam kami lontang lantung di perbatasan dengan perut kosong dan tenggorokan kering karena tidak ada makanan. Beruntung ada salah seorang pekerja yang mau membelikan kami makanan dan minuman dengan menyeberang jalan- karena dia mempunyai akses untuk itu. Pemeriksaan pun berakhir dengan mencocokkan foto kami dengan KTP, passport, pengambilan sidik jari, dan pemeriksaan bagasi.

Akhirnya sampai juga di hotel Value Baleister Road, tempat kami menginap. Perasaan lega bercampur lelah menghantar kami memasuki kamar. Kemudian, mencari makanan.

Sejak dari Jakarta, kami berencana untuk menggunakan kesempatan undangan bermain di Singapura ini untuk sekalian melakukan pemeriksaan medis dan treatment bagi mata Adrian yang pengelihatannya menurun. Kami melakukan korespondensi dengan sebuah rumah sakit di Singapura. Saat berobat di sebuah rumah sakit di Jakarta pada 2005, Adrian “divonis” Retinis Pigmentosa, sebuah penyakit penurunan pengelihatan pada mata yang akan berdampak pada kebutaan dan tidak ada obatnya.

Kamis, 4 Maret 2010, ditemani Rio (liason officer), Adrian memeriksa kondisi matanya. Penanganan dokter di rumah sakit Singapura sangat cekatan, sampai akhirnya keluar diagnosa bahwa penyakit mata Adrian adalah Inflammation atau terdapat virus/bakteri di darah sehingga tidak bekerjanya aliran darah ke mata. Yang paling menggembirakan adalah, menurut dokter, penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan beberapa treatment.

Jumat, 5 Maret 2010, ERK melakukan rehearsal bersama para pemain teater untuk pertunjukkan theater musical yang diberi tajuk “Maha Brata”. Esoknya, pertunjukkan digelar di The Republic Culture Centre. Sebuah penampilan kolaborasi yang apik melupakan segala “kekacauan perjalanan” kami di hari-hari sebelumnya.

Sekitar 800 tempat duduk terisi. Terlihat staf KBRI dan Duta Besar Indonesia untuk Singapura di atara penonton. “Lagu Kesepian” dan “Jalang” dibawakan untuk mengiringi adegan demi adegan. Setelah semua rangkaian teater usai, ERK kembali tampil live dan sekaligus menutup acara. Pertunjukkan penuh kesan!

Minggu, 7 Maret 2010, rombongan ERK pulang ke Indonesia. Kecuali Adrian yang kembali berobat ke rumah sakit, beserta saya yang menemani. Dua hari kemudian, kami pulang ke tanah air.

sumber : rollingstone.co.id

Advertisement



September 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930